Menjajal Petualangan Kuliner di Banda Aceh (2)

fight Like Ahok dari ujung barat Republik

fight Like Ahok dari ujung barat Republik

Setelah tertunda sekian lama akhirnya saya bisa melanjutkan nulis cerita tentang petualangan kuliner saya di Aceh. Terima kasih untuk almarhum Chrisye yang lagu lagunya berhasil menumbuhkan kembali mood menulis. hehe

Di malam terakhir saya di Banda Aceh setelah kembali dari sabang, saya sudah bertekad akan ‘nggragas’ makan. Nggragas sendiri adalah bahasa jawa  yang artinya kira – kira rakus lah.  Benar saja, walaupun badan masih terasa capek tapi tekad untuk makan enak tidak pernah surut. Untungnya tidak jauh dari hotel tempat saya menginap banyak terdapat tempat makanan khas Aceh yang pancen enak.

Sate Matang Glumpang

Tujuan pertama adalah warung sate matang glumpang. Sebenarnya sate matang ini tak ubahnya sate daging sapi biasa pada umumnya, tapi kelezatan dan keempukan satenya sudah termasyur.  Selain sapi warung sate ini juga menyediakan sate kambing. Tidak seperti sate kambing Madura yang kebanyakan disajikan dengan bumbu sambal kecap, sate matang memakai bumbu kacang dan kecap manis. Sebuah mangkuk berisi kuah kaldu dengan sedikit tetelan lemak  sapi atau kambing  turut melngkapi hidangan sate dan nasi.

Sate Matang Glumpang D'Wan

Sate Matang Glumpang D’Wan

20150301_192828

kuah kaldu

20150301_192941

Benar saja daging sapi dibakar ini begitu empuk dikunyah. Ditambah dengan kuah kaldu yang nikmat turut membantu daging dan nasi bisa larut dengan baik melewati mulut, kerongkongan sampai  mendarat di lambung.  Keapa bernama sate matang, karena sajian sate ini berasal dari daerah Matang Glumpang Dua, Kabupaten Bireun, Aceh.

Nasi Goreng Aceh

Tak puas menajajal sate, sambil jalan kaki pulang menuju hotel saya ketemu dengan warung nasi goreng aceh. Meskipun sudah beberapa kali mencicipi nasi goreng Aceh di Jakarta, tapi saya penasaran dengan nasi goreng Aceh di Banda Aceh karena punya tampilan yang berbeda. Jika biasanya nasi goreng itu disajikan saat masih panas karena baru dimasak begitu dipesan, di Aceh sendiri nasi goreng disajikan seperti layaknya nasi uduk atau nasi padang. Nasi goreng terlebih dahulu dimasak banyak dan ditaruh di tempat nasi besar. Kita sendiri tinggal memesan lauk yang dipajang di etalase warung seperti halnya warung nasi padang.

nasi goreng siap saji

nasi goreng siap saji

aneka lauk pauk

aneka lauk pauk

Rasanya? Hhhmmm.. kalau bicara rasa sih menurut saya lebih enak nasi goreng yang baru selesai dimasak. Jadi masi panas dengan uap mengebul. Bumbu rempahnya sendiri tidak begitu kuat. Sekali lagi, nasi goreng aceh yang lebih nikmat ternyata ada di Jakarta.

Martabak

Martabak jadi salah satu camilan yang banyak dijumpai di Banda Aceh. Seperti tukang gorengan di Jakarta yang banyak berhamnuran di pinggir jalan, begitu juga tukang penjual martabak. Bicara martabak aceh ini jangan dibayangkan seperti martabak keju, coklat atau ovamaltine yang sekarang sedang happening di ibukota. Martabak aceh ya martabak telur yang volumenya lebih tipis dibanding yang biasa kita temui di Jakarta. Saking gampangnya ketemu makanan ini, martabak telur bahkan dijual oleh pedagang keliling yang masuk keluar kapal cepat dengan digulung dan dibungkus kertas nasi coklat.

martabak aceh

martabak aceh

Bu Sie Itiek (Nasi Gulai Bebek)

Ini yang nggak boleh dilewatkan saat jalan jalan di Aceh. Aceh memang terkenal dengan nasi gulai bebek  atau yang biasa disebut orang lokal dengan nama Bu Sie Itiek, Bu Sie Itiek sendiri artinya makan nasi daging bebek. Sebelum pulang dari Banda Aceh saya sempatkan untuk mencari warung nasi gulai bebek. Sampailah saya di warung nasi bebek bang nasrul yang letaknya tak jauh dari airport. Dari tampilannya gulai atau kari bebek ini sudah mengundang selera. Tumpukan gulai bebek di kuali menyambut kita begitu masuk warung.  Bebeknya tidak bau, dagingnya super empuk dan bumbu gulainya gurih. Pokonya gak nyesal.

Gulai/ Kare Bebek

Gulai/ Kare Bebek

bebek masak di kuali

bebek masak di kuali

Alhasil saya habiskan sepiring pebnuh nasi dengan porsi besar dengan 3 potong daging bebek. Tidak hanya menjual bebek , warung ini juga menjual ayam kampung gulai yang tak kalah enak.

20150302_140707

tiga potong bebek ludes

Mie Lidi

Satu lagi kuliner khas aceh yang banyak dijual di kaki lima ,  mie lidi. Satu satunya hal yang menarik dari mie lidi ini adalah gerobak yang sekaligus berfungsi untuk etalase makanan. Segala kekhawatiran tentng zat – zat nggak sehat yang dipakai rasanya langsung terlintas begitu melihat tampilan mie ini. Belum lagi tambahan vitamin dari pedagang yang serba bisa menggunakan tangannya. Dari mulai dorong gerobak, mengaduk aduk dan meracik mie, sampai berjibaku dengan uang kembalian. Semua menggunakan tangan yang sama tanpa ada sesi cuci tangan. Tapi apa jawaban  orang Indonesia yang memang banyak yang kurang peduli pencegahan kesehatan, “justru itu dia yang bikin ini makanan enak!!”. #ndasmu

mie lidi dan kawan kawan pelengkapnya

mie lidi dan kawan kawan pelengkapnya

Masjid Raya Baiturahman

Sebelum pulang saya juga sempat mencicipi sejukny sembahyang siang (dzuhur) di masjid raya baiturahman. Dengan segala cerita menakjubkan tentang keindahan dan kekuatannya yang mampu bertahan dari terjangan tsunami, baiturahman memang jadi tempat yang harus dikunjungi. Selain tempat wudhu yang bagus, udara di dalam masjid juga sangat sejuk , kendati cuaca aceh sangat panas saat itu. Meskipun Nyman sebagai tempat ibadah, saya juga melihattidak sedikit pegawai negeri sipil (PNS) yang tidak hanya sembahyang, tapi juga bobo – bobo siang dengan nyamannya di serambi masjid. Mungkin ini caa mereka menunggu waktu absen pulang kantor. Yaaa begitulah harap maklum.

20150302_131602

20150302_133238

Setelah ini saya masih punya satu cerita lagi tentang pengalaman kuliner di Kota Medan Sumatra utara. Sampai ketemu di postingan berikutnya.

Menjajal Petualangan Kuliner di Banda Aceh (1)

Sebagai penggemar makanan berlemak  dan kurang sehat , sejak kecil saya tidak kenal apalagi suka dengan kuliner Aceh yang  kaya akan rempah dan santan tapi rasanya tidak sekuat masakan minang. Sejak dua tahun terakhir saya mulai terbiasa dan akhirnya suka dengan kuliner Aceh.  Masakan Aceh yang paling terkenal di Jakarta tentu saja Mie Aceh.  Berawal dari coba – coba dan menemani makan,  saya akhirnya jatuh cinta juga dengan masakan Aceh seperti Mie dan Nasi Goreng.

Sejak itulah saya mulai coba berpetualang masakan Aceh di Ibukota. Dari banyak restoran yang menjual masakan Aceh terutama Mie Aceh, ada tiga rumah makan favorit saya. Yaitu RM Seulawah di Bendungan Hilir, RM Jambo Kupi di Poltangan Pasar Minggu dan sebuah rumah makan Mie Aceh kecil di seberang TMP Kalibata. Kecintaan saya pada masakan Aceh ditambah dengan kenikmatan kopinya.  Apalagi saya seorang penggemar berat kopi .

20140206-163712 rm-seulawah

Setelah dua tahun ‘pacaran’ dengan masakan Aceh di Jakarta, saya putuskan untuk melanjutkan petualangan kuliner saya langsung ke Banda Aceh. Dalam hati saya ingin buktikan kenikmatan mie Aceh, dan kedai – kedai kopinya yang otentik. Keinginan untuk membuktikan   kenikmatan kuliner Aceh langsung di bumi Nangroe, berangkat dari pengalaman mencicipi masakan padang di Padang. Jujur saja, setelah menjajal restoran minang paling terkenal di Padang, ternyata  masakan padang di Jakarta jauh lebih enak dibanding yang asli dibuat di ranah minang sana.

Kita tak pernah tau kalau tidak mencoba, akhirnya dengan menumpang Lion Air saya terbang ke Banda Aceh.  Sesampainya di sana, kondisi airportnya ternyata cukup bagus dan bersih. Oo iya, karena tidak ada taksi berargo di Banda Aceh, saya sarankan anda untuk naik bus Damri menuju hotel  atau paling tidak menuju tengah kota. Kebetulan hotel Oasis Atjeh yang saya inapi dilewati rute Damri. Cukup membayar 20 ribu perorang , kita terhindar dari para pemeras dompet turis dan aksi tawar menawar khas Indonesia.

suasana hotel Oasis Atjeh , Banda Aceh diambil dari restoran

suasana hotel Oasis Atjeh , Banda Aceh diambil

Kari Kambing

Check in sebentar, kami langsung keluar untuk berburu kuliner makan siang. Tadinya kita mau menjajal sate matang gelumpang, tapi ternyata tempatnya masih tutup. Akhirnya petualangan kuliner kami dimulai dengan mecicipi kare kambing khas Aceh yang banyak dijual di simpang surabaya. Tidak seperti gulai kambing khas minang yang berkuah kental, kare kambing Aceh kuahnya encer hampir mirip sop. Rasa kuah dan bumbu rempahnya juga tidak begitu mencolok seperti layaknya gulai.  Tapi bicara soal daging kambingnya, hhhmmmm teksturnya empuukkk banget.

Daging – daging kambing yang disajikan beberapa masih menempel dengan tulang. Saking empuknya  dengan mudah bisa kita ‘preteli’ dari tulangnya. Rasa lapar yang merongrong dan pesona daging kambing yang empuk membuat saya terpaksa nambah satu mangkok daging  lagi. Uniknya kare kambing ini dimasak di kuali besar yang di pajang di depan restoran. Entah apa maksudnya pola open kitchen ala Aceh ini, tapi saya rasa sih ini strategi untuk memikat pengunjung.

kari kambing yang encer tapi nikmat

kari kambing yang encer tapi nikmat

open kitchen

open kitchen

Oo iya, sekali lagi karena public transport di kota Banda Aceh sangat minim, kita terpaksa mencarter becak. Becak di Aceh itu seperti layaknya bentor di medan, yaitu becak yang ditarik menggunakan motor.  Jalan  – jalan muter kota setengah hari ongkosnya 100 ribu. Yaa lumayan lah, dari pada harus nyambung – nyambung becak.  Kebetulan kita dapat supir becak baik yang mengkal di depan hotel. Namanya bang Iwan. Jadi selama 3 hari di Aceh, saya selalu pakai jasa bang Iwan untuk jalan – jalan berburu makan.

sosok bang Iwan yang baik hati

sosok bang Iwan yang baik hati

DSC_8006

Museum Tsunami Aceh

Okee.. mari kita lanjut.. Setelah perut kenyang  sekaramg kita mau mampir sejenak di museum tsunami Aceh.  Nggak banyak yang bisa diceritain di museum ini selain arsitekturnya yang kontemporer minimalis. Berbagai cerita dan peninggalan tsunami Aceh bisa kita lihat disini.  Satu ruangan yang jadi favorit saya adalah sebuah lorong vertikal menjulang menyerupai cerobong. Di sekeliling dinding dalam lorong ini terpatri nama-nama korban jiwa saat tsunami terjadi dan di puncaknya terdapat siluet “Allah” dalam huruf Arab.  Ruang ini juga dikenal dengan “The Light of God“.

DSC_7995

the light of God

DSC_8003 (1)

Kedai Kopi Solong Ulee Kareng

Sebagai penggemar kopi next stop tentu saja kedai kopi. Kita langsung meluncur ke kawasan Ulee Kareng untuk menikmati kopi di kedai kopi Solong. Kedai kopi yang berdiri sejak 1974 ini sebenarnya punya nama asli “Warkop Jasa Ayah”. Tapi karena kurang sedap diucapkan, nama Solong jadi lebih populer. Saya pesan dua gelas  kopi sekaligus, yakni kopi hitam dan kopi sanger. Kopi sanger itu kopi susu yang ditarik dengan kain seperti kaos kaki sinterklas.

Dan benar saja saudara – saudara,, ini adalah kopi paling enak yang pernah saya seruput. Rasa kopinya kuat, manisnya pas dan aromanya tajam. Aneka camilan khas Aceh juga turut dihidangkan seperti kacang dan kue – kue. Buat anda yang ke Banda Aceh jangan pernah lewatkan kedai kopi Solong. Harganya pun relatif murah, jadi sempatkan untuk membawa kopi solong untuk oleh – oleh. Dua gelas kopi dan seperempat ons kopi bubuk untuk oleh oleh cuma diganjar dengan selembar 50 ribu.  Ada lagi satu kebiasaan yang baru saya ketahui. Entah apa ini Cuma berlaku di kedai kopi Solong atau seluruh tempat makan di Aceh, tapi jika adzan sedang berkumandang maka pintu toko bakal ditutup setengah. Meskipun aktifitas di dalam masih bisa berlangsung normal.

kopi sanger

kopi sanger

kopi hitam solong

kopi hitam solong

kacang garuda atau dua kelinci nggak terkenal disini.. kalah sama kacang lokal

kacang garuda atau dua kelinci nggak terkenal disini.. kalah sama kacang lokal

kopi solong bungkus

kopi solong bungkus

Dendeng Aceh Gunung Seulawah

Sebelum pulang menuju hotel, kita mampir sejenak untuk beli oleh – oleh dendeng aceh yang katanya enak. Saya sendiri sih nggak begitu suka dendeng, tapi berhubung papa penggemar berat dendeng jadi kita beli. Satu kotak dendeng harganya 90 ribu. Review sedikit dari hasil icip icip paapa saya. Dendeng ini agak kurang cocok di lidah papa saya yang orang jawa tulen. katanya bumbu rempahnya terlalu mencolok di lidah (bukan dimata).

Dendeng Aceh Seulawah

Dendeng Aceh Seulawah

Mie Aceh Razali

Hari sudah beranjak malam, dan perut kembali keoncongan. Jadi saya kembali hubungi bang Iwan untuk meluncur ke Mie Razali Aceh di daerah pecinan. Katanya orang , mie razali ini rumah makan mie aceh yang paling terkenal seantero kota. Sebagai penggemar mie goreng Aceh yang sudah digembleng dengan kenikmatan rasa dari mie seulawah dan jambo kupi di Jakarta, saya pengen membuktikan kebesaran nama mie razali. Belum lama setelah saya kesini, kabarnya Presiden Jokowi juga menjajal Mie Razali.

Pesanan saya adalah menu andalan sepanjang masa,  Mie goreng aceh + daging. Tak perlu menunggu waktu lama, pesanan saya tiba. Porsi mienya cukup besar, dan cukup berminyak. Sekilas terlihat bumbunya cukup ‘nendang’. Ternyata apa yang saya alami di Padang kembali terulang di Banda Aceh. Meskipun daging sapi dan cuminya lumayan empuk, tapi bumbu rempah dan rasa pedas mienya kurang begitu terasa. Minyaknya juga cukup banyak, sehingga membuat bibir kita serasa memakai lip gloss saat makan.

Secara umum saya kecewa dengan rasanya yang tdak terlalu isimewa. Tidak sesuai dengan nama besarnya. Nantinya setelah saya ke Medan mencicipi Mie Aceh Titi Bobrok, baru saya tau kalau mie Aceh di medan jauh lebih enak dibanding mie aceh paling terkenal di Banda Aceh.

20150227_202734 madi_aceh_03 DSC_8017

Masih mau tau lanjutan petualangan kuliner saya di bumi nangroe? Tunggu postingan selanjutnya yaa..

See ya

Menikmati Keindahan Iboih – Sabang, Surga di Ujung Barat Indonesia

dari sabang sampai merauke 

berjajar pulau – pulau..

lagu tadi memang membuat kita sejak kecil sudah akrab dengan Sabang, Satu kota di ujung barat Indonesia tepatnya di pulau weh, provinsi Aceh. Beberapa waktu terakhir daerah ini kembali jadi pusat pemberitaan karena kunjungan Presiden Jokowi, yang meresmikan logo peringatan kemerdekaan ke 70 tahun 2015 tepat di titik kilometer 0 Indonesia. Tapi sebenernya jauh sebelum Presiden datang, kabar tentang eksotisme Sabang memang sudah melegenda. Rasanya kurang kalau cuma lihat eksotisme sabang dari foto atau youtube. Jadi saya pilih untuk menjajal langsung rasanya liburan di Sabang.

Meskipun berada di pulau kecil di ujung barat Indonesia, sebenarnya tidak sulit untuk menjangkau Sabang. Bagi yang ingin praktis, sekarang sudah ada penerbangan langsung dari Jakarta dan Medan menuju Sabang. Saya sendiri memilih jalur konvensional lewat Banda Aceh. Dari hotel oasis di Banda Aceh tempat kami menginap, saya menuju pelabuhan Ulee Lheu dengan menggunakan becak motor. Tarif becak sendiri rata – rata menuju pelabuhan sekitar antara 30 – 40 ribu, tergantung gimana kita nawarnya.

perjalanan menuju pelabuhan Banda Aceh

perjalanan menuju pelabuhan Banda Aceh

pelabuhan Ulee Lheu , Banda Aceh

pelabuhan Ulee Lheu , Banda Aceh

Ada dua pilihan kapal untuk menuju Sabang. Bisa menggunakan kapal lambat (roro) milik ASDP. Tarifnya 20 ribu per orang, dengan waktu tempuh 2 jam. Atau kita bisa naik kapal cepat dengan waktu tempuh 40 – 45 menit saja. Tarifnya untuk kelas eksekutif 85.000 per orang, dan VIP 105.000 per orang. Ini mirip kapal cepat yang menuju pulau seribu dari marina yang biasa kita pakai. Lalu apa bedanya kelas eksekutif dan VIP? sebenarnya nggak terlalu jauh beda antar keduanya. Kira – kira ini perbedaannya.

EKSEKUTIF:
1. satu baris terdiri dari 4 kursi
2. kursinya kult tapi tanpa pembatas tangan satu sama lain.
3. seperti layaknya kereta ekonomi, banyak tukang jualan yang berseliweran.
4. tidak ada hiburan musik dan dvd
5. AC cukup dingin.
6. Pemandangan keluar susah tampak

VIP:
1. satu baris terdiri dari 3 kursi
2. kursinya kulit agak lebih lapang dan ada pembatas tangan satu sama lain
3. ada dvd musik yang umumnya lagu-lagu dangdut atau pop indonesia.
4. tidak ada tukang jualan.
5. jarak antar baris lebih lapang
6. pemandangan lebih jelas karena berada di dek atas.

keterangan kapal cepat Banda Aceh - sabang

keterangan kapal cepat Banda Aceh – sabang

kantong kresek darurat buat penumpang yang mabuk laut

kantong kresek darurat buat penumpang yang mabuk laut

tiket kapal cepat kelas eksekutif

tiket kapal cepat kelas eksekutif

Untuk keberangkatan ke Sabang, saya pilih untuk beli tiket eksekutif yang berangkat jam 9.30 pagi. Kapal cepat ini cukup nyaman, tanpa ada goncangan – goncangan berarti yang bsa bikin perut mual. Perjalanan sekitar 45 menit tidak terasa sampai akhirnya kita merapat di pelabuhan Balohan Sabang. Akhirnya saya bisa menginjak pulau paling barat republik ini. Sejak di pelabuhan kita sudah diperlihatkan hamparan laut yang sangat jernih.

DSC_8038

DSC_8039

Seperti biasa begitu turun kapal menuju pintu keluar, kita bakal dikerumuni orang yang menawarkan transportasi mulai dari taxi sampai sewa mobil. Lebih baik hiraukan mereka jika anda ingin menyewa motor. Sesuai rencana saya pilih untuk sewa motor aja untuk menuju penginapan di Iboih sambil keliling pulau. Karena begitu keluar pintu pelabuhan sudah terlihat beberapa tempat penyewaan motor. Harga sewa motor perharinya 120 ribu. Kebanyakan motor yang disewakan jenis matic yang cukup boros bensin. Karena cukup jarang ada pom bensin resmi di pulau weh, jadi bagi anda yang baru sewa motor disarankan untuk isi bensin full. Kalau tidak , anda harus isi bensin eceran yang banyak ditemukan di pinggir jalan menuju Iboih, tentu saja dengan harga yang ebih mahal.

saya dan motor sewaan

saya dan motor sewaan

daripada dorong motor, mending selalu penuhin bensin termasuk beli eceran

daripada dorong motor, mending selalu penuhin bensin termasuk beli eceran

Perjalanan dari Balohan (pelabuhan) menuju Iboih memakan waktu sekitar 1 jam. Jangan khawatir bakal tersesat, karena papan penunjuk jalan banyak tersedia. Kalaupun anda tersasar, warga disana cukup ramah kok untuk memberi tahu arah. Ini yang paling berkesan, sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan Sabang yang super indah. Hutan belantara, tebing yang curam , deretan kedai kopi tradisional, dan pemandangan laut dari ketinggian jadi teman perjalanan kita.Jalanan panjang yang mulus dan sepi membuat perjalanan naik motor sangat menyenangkan meskipun terik matahari lumayan menyengat. Benar juga kata orang kalau Sabang itu singkatan dari Santai banget! Saking sepinya jalanan, jangan kaget kalau kita bakal ketemu rombongan sapi atau monyet hutan yang santai di tengah jalan. Kita juga bakal menghadapi banyak ranjau ‘kotoran’ sapi di sepanjang jalan. Jadi hati – hati aja kalau nggak mau ban motor bau tokaiii gegara nginjek tai sapi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

suasana jalanan yang sepii

awas sapi menghadang

awas sapi menghadang

pemandangan di perjalanan

pemandangan di perjalanan

penunjuk jalan selalu tersedia.. percaya aja deh dari pada kesasar

penunjuk jalan selalu tersedia.. percaya aja deh dari pada kesasar

Setelah menempuh kombinasi jalan yang naik turun, akhirnya kita sampai juga di pantai iboih. Rencananya sih kita mau langsung check in, tapi berhubung waktu check ini yang jam 13,00 masih beberapa jam lagi, kita putusin untuk ngopi sejenak di pinggir pantai dan melanjutkan perjalanan ke tugu kilometer 0 Indonesia. Dari Iboih perjalanan ke titik 0 kilometer nggak begitu jauh. Tapi sayang tugu 0 kilometer sedang direnovasi saat itu. Iya sih, tugu yang lama emang sudah jelek banget dan agak kurang pantas menjadi ikon. Dari design pembangunan yang kita lihat, nantinya tugu ini akan mempunyai tinggi 40 meter yang juga berfungsi sebagai menara mercusuar.

 tugu 0 kilometer Indonesia

tugu 0 kilometer Indonesia

Jadi kita foto – foto sebentar dan makan siang di sana. Saya pilih satu rumah makan yang cukup nyaman dengan bilik kayu dan punya pemandangan langsung ke laut lepas Samudra hindia. Meskipun punya pemandangan yang indah tapi menu yang ditawarkan tidak banyak. Cuma ada Mie Instan atau nasi goreng. Tapi Mie Instan disini sedikit dimodifikasi dengan bumbu rempah khas Aceh. Rumah Makan ini juga dilengkapi jaring pengaman untuk mengantisipasi kedatangan kawann monyet yang memang banyak terdapat pepohonan sekitar rumah makan.

yang penting viewnya bagus..

yang penting viewnya bagus..

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perut sudah kenyang, sekarang waktunya kembali ke pantai iboih untuk check in. Sesuai rekomendasi kita pilih untuk menginap di resort Iboih inn. Karena jalan kaki dari pantai menuju resort tempat kami menginap cukup jauh, pihak Iboih inn sendiri memberikan kita fasilitas antar jemput memakai perahu motor. oo iya, motor cukup anda
parkirkan di parkiran pantai dengan bayar 10 ribu untuk dua hari.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

hati – hati waktu naik kapal, karena saya sempet jatuh..hehe.. nggak sakit sih, cuma malu aja

pantai tempat kita parkir motor, dan menunggu dijemput pihak hotel

pantai tempat kita parkir motor, dan menunggu dijemput pihak hotel

Menikmati denyut Sabang di Iboih Inn

Bisa dibilang Iboin Inn jadi penginapan paling bagus di Iboih. Lokasinya berada di pinggir ‘hutan’ dengan tebing karang curam yang memisahkan dari laut. Begitu sampai di dermaga privatnya iboih Inn, tanpa harus menyelam kita langsung bisa lihat air laut yang jernih dengan ikan – ikan cantik berenang di dalamnya. Penginapan ini memiliki beberapa tipe kamar. Yang paling favorit adalah kamar tipe DELUXE WATERFRONT dan SEMI WATERFRONT yang lansgung menghadap kelaut. Tapi karena sudah penuh dengan rombongan , saya sendiri dapat kamar tipe DELUXE GARDEN SEA VIEW dengan harga 470 ribu permalam. Kalau lupa bawa uang cash, Iboih Inn juga melayani pembayaran kartu kredit. harga ini udah termasuk sarapan pagi ya. Meskipun agak sedikit naik di atas, tapi kita tetap bisa melihat pemandangan laut yang indah dari teras kamar. Disarankan kalau mau menginap di Iboih Inn , lebih baik reservasi dari jauh hari sebelumnya kalau ingin dapat kamar terbaik.

nb: anda bisa buka website Iboih in untuk keterangan lebih detil http://welcome.iboihinn.com/

Sampai disana kita check in di front desk , merangkap restoran sekaligus tempat kongkow. Karena jalan kaki malam hari menuju restoran di pantai cukup jauh, kita pilih untuk makan malam di hotel. Jadi sejak awal kita langsung pilih menu makan malam apa yang kita mau dan jam berapa mau disajikannya. Sayangnya waktu kita kesana koki andalan Iboih Inn sedang cuti menikah, jadi pilihan makan malamnya cukup terbatas. Kalau beruntung, kita bisa bertemu dan ngobrol dengan ownernya ibu Liza yang ramah.

Kamarnya cukup sederhana namun bersih dan nyaman. kamar mandinya bersih dilengkapi air panas. Karena resort ini berada di pinggir laut, jadi rasa airnya agak asin. Siap siap aja berasa kumur pakai air garam kalau mau gosok gigi. hihi… Kita juga disediakan handuk dan sebuah dispenser air kalau mau minum kopi atau teh panas. Uniknya di setiap tempat tidur terdapat sebuah kelambu penangkal nyamuk.Sempat bingung dengan apa kegunaan benda ini, ternyata baru tahu kalau nyamuk disini lumayan besar dan ganas. Tapi sayangnya aroma kelambu di kamar  sudah agak apek, jadi kurang nyaman kalau dipakai.  Lebih baik saya sarankan anda untuk bawa lotion penangkal nyamuk seperti autan atau soffel.

Kamar di resort ini memang seperti layaknya bungalow. Terbuat dari kayu dengan tiang – tiang besi sederhana seperti bangunan semi permanen. Setelah ngobrol dengan si pemilik, baru tahu kalau semua bangunan kamar disini dibeli dari sisa rumah penampungan sementara bagi para pengungsi Aceh yang terkena tsunami. Meskipun dibeli dari
sisa rumah sementara korban, tapi bangunan ini cukup kuat karena berasal dari sumbangan lembaga donor asing yang punya standar kualitas baik. Sekaligus kita bisa ngerasain lah gimana jadi pengungsi.

Dan yang menjadi spot favorit saya di kamar adalah tempat tidur gantung yang terbuat dari jaring. Suasana resort pinggir laut benar  benar terasa. Apalagi di kamar tidak disediakan TV jadi kita bisa menikmati suasana santai ala pantai.

Sayapun menghabiskan banyak waktu di tempat tidur gantung itu sambil menikmati semilir angin dan suara ombak. Untung saya bawa beberapa kopi sachet ulee kareng dari Banda Aceh yang berguna menambah mood membaca. Kebetulan dari Jakarta saya sudah siapkan sebuah buku tulisan Prof. salim Said yang rencananya akan saya kuliti.  Sebelum ke Aceh, buku itu sudah saya baca kira – kira setengah buku. Seperti kesukaan saya, buku ini selain bercerita tentang perjalanan Prof. Salim yang seorang seniman, wartawan, diplomat dan peneliti militer terkemuka, juga menceritakan berbagai peristiwa sejarah Indonesia yang dilewatinya. Mulai dari G 30 S, aksi mahasiswa 66 sampai politik pasca reformsi. Semua tertulis dengan lengkap dan nyaman untuk dibaca. Suasana Iboih yang tenang benar – benar meningkatkan ‘birahi’ membaca saya pada level tertinggi. Alhasil selama semalam saya di sabang, buku setebal 560 halaman ini tuntas habis saya baca.

Kalau bosan di kamar, kita sesekali bisa duduk nongkrong di lobby restoran atau di pinggir dermaga. Karena hanya ada satu tempat nongkrong di resort ini, jadi umumnya tamu – tamu berbaur dan saling mengobrol disini. Ada bule, ada rombongan anak muda ada juga keluarga besar yang menghabiskan waktu untuk diving. Atau kita bisa jalan ke pantai tempat dimana kita parkir motor dengan menyisiri jalan setapak di antara hutan iboih. jalannya sih lumayan capek dan naik turun untuk bisa sampai ke pantai. thats why kenapa kita difasilitasi antar jemput naik perahu. Di pantai kita bisa menikmati banyak jajanan khas pinggir pantai , seperti gorengan , donnut kampung goreng , kelapa muda, rujak aceh dan yang khas adalah syrup kurnia yang cuma ada di Sumatera bagian utara. Sebaiknya anda tanya dulu harga makananya sebelum memesan, kalau tidak mau kena
‘getok’ harga.

dermaga Iboih Inn

dermaga Iboih Inn

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

suasana kamar twin bed , garden sea view

suasana kamar twin bed , garden sea view

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

kamar saya

membaca di kala senja

membaca dan menyeruput kopi

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA05282bf03eeaa7

Jam 8 malam kita dan tamu lainnya berkumpul di restoran untuk makan malam dengan menu yang sudah dipesan sejak sore. Lagi – lagi karena tidak ada koki yang biasa masak, pegawai hotel minta kita memaklumi masakan yang dibuat sendiri oleh ibu Liza. Menu yang kami pesan antara lain Ikan tuna saos Iboih, calamary dan capcay. Secara
umum masakannya lumayan enak. ikan bumbu saos iboihnya enak sekali. saos Iboih itu sepeti campuran bumbu ikan bakar pedas seperti ikan bakar babe Lili di jakarta.

Rasanya manis, gurih campur rasa pedas yang tidak terlalu menyengat. Sayang saya kurang begitu suka ikan tuna, jadi saos Iboihnya banyak membantu meningkatkan selera makan. Cumi goreng calamarynya enak. cuminya empuk, dan tepung bumbunya nggak keras kaya kerikil. pokonya perfect. Nahh yang agak mengecewakan ya capcaynya yang lebih
mirip oseng – oseng wortel , dan brokoli tanpa rasa apalagi kuah kental. Untuk 3 menu itu yang harus dibayar lumayan mahal sekitar 164 ribu.

Sehabis makan banyak tamu yang tetap bertahan di restoran sambil minum beer, buka laptop atau sekedar ngobrol satu sama lain. Karena cuma disinilah kita bisa mengakses wifi gratis. Kalo saya sih pilih ngelanjutin baca buku di restoran dengan alunan lagu jazzy tunes yang diputar lewat pengeras suara. sekitar jam 10 malam , kita
kembali ke kamar karena besok pagi berencana untuk snorkling di depan hotel.

Ikan Tuna Saos Iboih

Ikan Tuna Saos Iboih

calamary

calamary

Sesuai rencana, mata sudah melek sekitar jam 6 pagi. setelah bersih – bersih, trus kita nongkrong ditemani secangkir kopi di bibir dermaga Iboih inn sambil menunggu semburat matahari yang muncul dari ufuk timur. Cahaya yang melewati sela – sela pohon di pulau rubiah yang ada di seberang, kemudian memantul di air laut yang super jernih menjadi pemandangan yang menakjubkan. Segala ketegangan kerjaan rasanya hilang begitu saja.

Sekitar jam 7 pagi, para tamu sudah kembali kumpul di restoran untuk sarapan. Menu sarapannya sederhana namun variatif. Ada bihun goreng plus telur dadar, roti dan pancake pisang, tentu saja dengan teh dan kopi. Lagi – lagi dengan alunan musik Jazzy Tunes yang diputar , suasana deburan ombak, dan kapal yang lalu lalang membuat
saya mengurungkan niat untuk nyebur snorkling. Suasana kaya gini memang langka banget, jadi saya putuskan untuk melanjutkan baca buku. Toh tanpa harus nyebur kita sudah bisa lihat karang dan ikan – ikan cantik berenang dari permukaan. Nggak terasa buku tebal itu akhirnya bisa ludes saya baca pagi itu. Jam 11 kami check out dan
kembali ke pantai dengan diantar perahu motor.

semburat mentari pagi di iboih

semburat mentari pagi di iboih

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

suasana sarapan pagi di restoran merangkap front desk dan tempat kongkow

suasana sarapan pagi di restoran merangkap front desk dan tempat kongkow

pemandangan tepat di depan ermaga iboih inn

pemandangan tepat di depan ermaga iboih inn

jernihnya lua biasa

jernihnya lua biasa

Sebelum kembali ke pelabuhan, kita akan ke kota untuk makan siang dan cari oleh – oleh andalan Sabang yaitu bakpia AG. AG sendiri dingkatan dari A Guan. Bakpia AG sabang sebenarnya punya rasa yang mirip dengan bakpia pathok di Jogja. Entah kenapa saya lebih suka bakpia sabang karena tekstur kacang hijaunya yang agak lebih kasar. Kita beli di salah satu toko makanan di daerah pecinan kota Sabang. Sekitar 35 menit perjalanan dari Iboih. Untuk makan siang, kita cari kedai kopi yang juga ada menu mie acehnya. Saya pesan kopi Sanger alias kopi susu yang disaring, dan Mie Aceh Goreng. Nggak disangka Mie Aceh di kedai yang biasa ini jauh lebih enak dari Mie Razali Banda Aceh yang terkenal itu.

bakpia AG

bakpia AG

mie aceh goreng daging

mie aceh goreng daging

Kopi Sanger alias Kopi susu tarik panas jadi pilihan..

Kopi Sanger alias Kopi susu tarik panas jadi pilihan..

Perut sudah kenyang, sekarang watunya kembali ke Banda Aceh. Tadinya sempat terlintas untuk mencoba naik kapal lambat ASDP mengingat bisa menghemat bujet. Tapi justru akhirnya kita balik ke Banda Aceh dengan kapal cepat kelas VIP seharga 110 ribu perorang. Nggak jadi ngirit. tapi ini memang waktunya untuk sekali kali memanjakan diri dengan segala pesona Sabang. Sebuah titik istimewa di barat Republik ini. Dengan perencanaan yang matang, dijamin perjalanan anda ke Sabang bakal berjalan menyenangkan. Saya janji pasti suatu saat nanti bakal kembali kesana.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

peta-sabang-2

Umrah Politik, bukan Politik Umrah

 

20140707_075618

Sebenarnya saya mau menulis cerita ini sesaat setelah pulang dari ibadah umrah. Tapi karena takut ‘ria’ , baru sekarang saya tulis sedikit cerita tentang perjalanan umrah saya bersama orang yang kini bisa kita panggil “Pak Presiden”.

Tiga hari jelang pemilihan presiden 9 Juli 2014, Gubernur Jokowi memilih menjauh dari kegaduhan politik di tanah air untuk menunaikan ibadah umrah di tanah suci. Tidak seperti umrah biasanya yang menghabiskan waktu satu minggu lebih, umrah Jokowi kali ini terbilang kilat,  cukup 2 hari saja. Bayangkan, rombongan berangkat dari cengkareng tanggal 6 Juli siang, dan sudah kembali mendarat di Jakarta pada tanggal 8 pagi. Satu hari tersisa dipakai Jokowi untuk beristirahat menjelang hari penentuan.

Kendati tidak banyak, namun rombongan umrah Jokowi kali ini cukup meriah. Selain mengajak keluarga yakni istrinya Iriana dan dua anaknya Gibran dan Kahyang, rombongan Jokowi juga diramaikan dengan kehadiran tim hore. Tim hore yang saya maksud ini adalah para petinggi partai koalisi yang kerap mengintil Jokowi berkampanye keliling negeri. Mereka antara lain Ahmad Basarah dari PDI Perjuangan, Marwan Djafar dari PKB dan Akbar Faisal dari Nasdem. Belum lagi ditambah Iwan Piliang yang entah hadir sebagai apanya Jokowi. Sebagai pembimbing spriritual, turut serta di dalam rombongan mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan Dr. Faisal Mahmud.

Sementara itu saya yang dalam keseharian kurang taat menjalankan ritual agama beruntung diajak turut serta bersama sedikit jurnalis lainnya. Saat briefing atau dalam bahasa spiritualnya disebut  ‘manasik ’ sehari sebelum berangkat,ke tanah suci, kami diingatkan oleh penyelenggara bahwa perjalanan umrah kali ini adalah perjalanan VVIP. VIP saja sudah wah, apalagi VVIP, pasti lebih istimewa lagi. Kalau martabak  yang pakai telur bebek 5 butir.

Mereka juga mengingatkan bahwa  keberangkatan Jokowi umrah ke tanah suci ini  akan memakai standar keberangkatan sekelas presiden , bukan lagi gubernur atau sekedar capres, tapi PRESIDEN. Belum lagi dengan wajah serius  seperti biasa dan sambil setengah berkaca kaca (paling tidak dari suara parau yang terdengar dari tempat saya duduk) , Akbar Faisal mengingatkan bahwa perjalanan umrah kali ini begitu serius, terutama terkait keamanan Jokowi. Akbar kemudian melanjutkan ceritanya soal bagaimana Jaksa Agung Baharuddin Lopa yang selama hidupnya tak kenal takut memberantas korupsi, harus menghembuskan nafas terakhirnya ketika sedang beribadah umrah. Lopa harus menghadap sang pencipta dengan cara yang paling tidak menurut Akbar tidak sewajarnya.

Dengan ilustrasi cerita yang menyenangkan sekaligus menegangkan itu saya berasumsi bahwa pejalanan kali ini pasti akan sangat nyaman. Karena rombongan akan dikawal dengan pengawalan kepolisian Indonesia dan Arab Saudi dengan ketat. Segala urusan administrasi bandara seperti imigrasi dan tetek bengek lainnya pasti bisa langsung beres, tanpa antre.

Marwan D, saya, Jokowi, Kyai Hasyim

Marwan D, saya, Jokowi, Kyai Hasyim

Keesokan harinya kita berangkat tepat tengah hari waktu Jakarta menumpang pesawat Garuda Indonesia. Saya seperti kodrat wartawan kebanyakan pasti duduk di kelas ekonomi. Sementara Jokowi dan keluarga serta tak lupa tim hore  yang meyertai duduk nyenyak di first class boeing 777 300ERnya Garuda yang super nyaman. Rasanya baru kali ini saya lihat Jokowi duduk di kelas nomor satu, ketika menumpang pesawat komersil.

Karena saat itu sedang bulan puasa, maka  jamaah ‘garudaniyah’ boleh memilih untuk berbuka puasa waktu Jakarta atau waktu Jeddah. Kebetulan  maghrib  wakktu Jakarta datang lebih dulu, dan dengan alasan pragmatis saya memilih untuk berbuka duluan. Beberapa rekan yang ingin lebih khusuyuk, memilih buka puasa waktu Jeddah. Untungnya Jokowi yang saat itu masih Gubernur DKI lebih cinta tanah air, sehingga juga memilih berbuka waktu Jakarta.  Lagian, siapa lagi yang mau menghargai produk dalam negeri termasuk waktunya, selain kita – kita.

Sesampainya di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, kita langsung digiring masuk ke VIP Lounge. Disana masih terngiang – ngiang briefing sehari sebelumnya tentang keistimewaan rombongan ini. Masuk ke lounge kita disambut jejeran sofa dan minuman dingin yang bisa bebas diambil. Perjalanan pegal 9 jam, lumayan bisa terkompensasi dengan minuman free flow ini. Tapi kebahagiaan kita sebagai rombongan VVIP calon presiden harus buyar ketika akan melakukan sidik jari dan foto.

Rupanya kendati datang sebagai rombongan VVIP, tapi toh kita harus bergumul dengan  pelayanan imigrasi bandara Jeddah yang boleh dibilang buruk.  Satu persatu kami harus mengantre cukup lama untuk menunggu giliran foto dan scan sidik jari. Karena saking lamanya menunggu, kami harus bolak balik antara ruang tunggu ke meja imigrasi, hanya untuk mengetahui apa sudah tiba giliran kita. Bahkan beberapa diantara rombongan yang sudah foto dan scan sidik jari, terpaksa harus mengulangi karena ketidakbecusan petugas imigrasi.

Petugas imigrasi disana memang spesial. Cuma seorang diri melayani belasan rombongan umrah. Tidak ada senyum ramah, apalagi kesigapan melihat antrean yang mengular. Bahkan ketika ada rekannya yang mengajak ngobrol ditengah tugas, maka sang petugas dengan santai akan meninggalkan pekerjaaannya dan asyik mengobrol. Jika sudah selesai mengobrol, maka dia kan melanjutkan pelayanan. Namun  kalau ada lagi yang mengajak ngobrol, ya kami juga kembali tidak dilayani.

“kalau kejadian di Indonesia, bisa tak pecat itu petugas”, ujar seorang anggota DPR yang ikut rombongan. Namun segala dumelan sampai sumpah serapah kami juga tak digubris oleh sang petugas yang tetap asyik dengan dunianya sendir. Ya mungkin karena dia memang tidak mengerti bahasa Indonesia.

Petugas travel yang mengatur perjalanan kamipun tak bisa berbuat banyak melihat pelayanan buruk untuk rombongan yang katnya sekelas presiden. Untungnya Gubernur Jokowi tidak harus bolak balik ke meja imigrasi seperti kami. Baru setelah sekitar 2.5 jam menunggu, proses imigrasi selesai dan kami boleh keluar dari bandara.

Dikira anak Jokowi

Tak ubahnya di tanah air, di tanah suci sosok Jokowi juga menjadi magnet. Karena berita kedatangannya sudah tersebar, banyak sekali warga Indonesia yang ada disana, datang ke masjidil haram untuk sekedar melihat dan mengikuti Jokowi beribadah. Buat saya sih awalnya nggak masalah, karena sudah biasa berjibaku dengan ribuan fans jokowi yang ingin mendekat.

Tapi di perjalanan kali ini berbeda. Saya yang selain ikut beribadah punya tugas meliput, mulai merasa terganggu di tengah tengah ibadah. Ketika sedang megambil gambar, saya mendengar beberapa orang Indonesia yang berkerumun di samping berbisik bisik sambil menoleh ke saya. Lama – lama mereka mendekat, dan meminta foto. Saya yang mau difoto bingung karena bukan siapa – siapa. Mereka terus memaksa sampai mengganggu tugas liputan saya.  Setelah saya tanya mereka ternyata mengira saya anaknya Jokowi. Makanya pada rebutan mau foto bareng. Tapi setelah saya klarifikasi kalau saya bukan anak Jokowi, mereka toh tetap saja maksa mau foto. Yaa bukan maksud sombong atau apa, tapi daripada ketinggalan rombongan gubernur, saya terpaksa mengabaikan ajakan foto ala ala artis papan atas ibukota yang menghindar dari kerubutan fans.

Setelah ibadah umrah selesai, kamipun kembali ke hotel untuk sahur dan shalat subuh. Jadwalnya setelah shalat subuh, Jokowi akan langsung melakukan thawaf wada sebelum beristirahat dan bertolak ke Maddinah. Saya bersiap lebih dulu keluar hotel menuju masjidil haram. Begitu keluar puluhan orang yang erkerumun tiba – tiba kembali menyerbu untuk minta foto. Lagi – lagi saya dikira anaknya Jokowi. Hhhmmmm. Karena capek klarifikasi, saya melayani satu dua ajakan foto. Untung nggak beberapa lama kemudian, Jokowi keluar dan perhatian beralih.

Kontroversi Ihram

Satu hal lagi yang ramai dibicarakan di tanah air adalah soal Jokowi yang salah memakai ihram saat umrah.  Yang diperdebatkan adalah, kenapa Jokowi memakai ihram dengan selempang kekanan sehingga pundak kiri kelihatan. Padahal sejak keluar hotel untuk tawaf di ka’bah, Jokowi sudah menyelempangkan kain ihramnya ke kiri, sehingga pundak kanan telihat. Menurut para ahli agama, memang sudah peraturannya memasang ihram seperti itu. Nah, begitu selesai tawaf, pembimbing umrah kami Prof Faisal Mahmud menyarankan agar kain ihram kita dikalungkan secara bebas agar nyaman dipakai saat sya’i. Saya tidak begitu ngeh bagaimana Jokowi kemudian memakai ihramnya, tapi mungkin dimomen itulah Jokowi kedepatan salah memakai ihram. Padahal saat itu kita justru dibebaskan mamakai ihram senyaman mungkin.

 

Tapi perjalanan umrah singkat ini tentu saja sangat membekas untuk saya yang kurang rajin beribadah.  Karena beberapa hari kemudian, orang yang pergi umrah bersama saya terpilih menjadi orang nomor satu di republik. Tuhan memang bekerja secara misterius.

Haleluyaa!!!

20140707_032015

 

 

 

20140707_073233

 

 

Kabinet Pilihan Saya

jokowi jk

 

Setelah proses panjang pemilihan presiden usai  kini orang menanti dengan penuh harap dan tentunya tetap sinis, siapa yang akan dipilih untuk masuk skuad Jokowi – JK di kabinet nanti.  Banyak yang masih berharap Jokowi menepati  janjinya untuk tidak akan  bagi – bagi jatah menteri ke sponsor, teman, keluarga apalagi partai politik.

Saya masih ingat saat kampanye pemilu legislatif pada april lalu, waktu itu kita sedang di kota Malang. Selepas pertemuan dengan relawan, Jokowi yang malam itu sudah keliatan lelah tiba- tiba menyulut perhatian kami para wartawan yang kebanyakan sudah terkantuk karena jadwal kampanye yang padat. Tiba – tiba  Jokowi seperti menaburkan harapan positif , karena dengan tegas  mengatakan bahwa tidak akan ada deal transaksional dalam koalisinya, dan yang paling penting dia tidak bakalan  bagi jatah menteri. Kira – kira begini kata-katanya, “kalo minta – minta sorry aja, kalo mau ikut, ayo.. Tapi minta – minta sorry, harus berani seperti itu, kalau ndak pusing. . Pokoknya tidak ada yg namanya nego- negoan, tidak ada yg namanya lobi – lobian dalam artian duit, tidak ada yg namanya bagi2 kursi. Karena kursi itu memang tidak untuk dibagi”, begitu ujar sang capres Jokowi.

Tapi toh lama – lama harapan yang kuat dari publik agar Jokowi membuat zaken kabinet aias kabinet professional yang sepenuhnya bakal terbentur realitas politik di lpangan. Jujur, kalau mau dilihat di lapangan partai – partai itu ya lumayan banyak jasanya buat Jokowi. Terutama di saat margin antara Jokowi dan Prabowo semakin dekat.  PDIP sebagai sang manten jelas punya pekerjaan paling berat. Nasdem dengan metro tvnya, PKB  dengan  safari pesantren  guna menangkal kampanye SARA, HANURA dengan pernyaaan Wiranto soal pemecatan Prabowo, lumayan membantu peruangan Jokowi. Dengan realitas itu, wajar lah kalo mreka dapat jatah 1- 2 kursi. Tapi tetap aja kita berharap mayoritas anggota kabinet  berasal dari professional.

Belajar dari Presiden Gus Dur dan SBY

Dalam sejarah reformasi  bagi – bagi jatah menteri alias dagang sapi memang lumrah dilakukan.  Sejak  kabinet Presiden Abdurrahman Wahid sampai kabinet kedua Presiden SBY.  Tujuannya jelas, yaitu membentuk pemerintahan yang stabil yang akomodatif terhadap sistem multipartai. Koalisi gemuk selalu menghasilkan kabinet yang gemuk dan berwarna warni.  Kita lihat pengalaman Presiden SBY yang ramai ditelikung kawan koalisinya sendiri di parlemen. Bukan sekali dua kali, Golkar, dan PKS yang dapat jatah empuknya kekuasaan ternyata khianat.  Kabinet SBY yang terbilang stabilpun tak terlepas dari beberapa kali kocok ulang.  Setgab hanya jadi barang basi, karena kepentingan setiap partai tidak sama di setiap isu.   Dan faktanya memang para menteri asal parpol ini kebanyakan terseok seok prestasinya. Lihat saja menteri pertanian asal PKS, menaker asal PKB , menpera PPP, menteri agama PPP, menteri koperasi ukm Demokrat yang banyak terjerembab kasus.  Pada masa SBY, reshuffle kabinet hanya jadi kosmetik yang tidak menyentuh akar permasalahan.

sby

Presiden Abduurahman Wahid justru lebih ekstrim lagi. Lebih dari tiga kali reshuffle kabinet dalam waktu dua tahun. Dalam pengakuannya , Gus Dur mengakui sejak awal sudah tersandra oleh partai koalisi yang meminta jatah menteri. Bahkan Gus Dur ketika itu mengakui hanya meminta jatah 3 orang menteri pilihannya, yaitu Menteri Luar Negeri Prof. Alwi Shihab, Menteri  Kordinator Ekuin Kwik Kian Gie, dan Menteri Agama Prof. Tholchah Hasan. Sisanya silahkan di “bancak” oleh partai – partai kata Gus Dur. Faktanya toh para menteri ini lebih loyal kepada partai dari pada Presiden yang akhirnya ramai – ramai mereka jatuhkan.  Di saat masa krisis politik menjelang akhir kekuasaanya, Gus Dur yang doyan bongkar pasang menteri akhirnya berani menaruh para professional yang betul betul seide dengan presiden, terutama terkait isu pemberantasan korupsi, dan refirmasi ekonomi.

Banyak orang kemudian menganggap Presiden Wahid akhirnya punya komposisi dream team kabinet di masa perjuangan terakirnya. Menurut Wimar Witoelar, di akhir jabatannya Gus Dur menegaskan harus membuat garis tegas mana yang mendukung gerakan reformasi dan mana yang hanya jadi penumpang gelap reformasi. Di masa akhir inilah duduk orang – orang “canggih” semacam Susilo Bambang Yudhoyono, Rizal Ramli, Jenderal Luhut Pandjaitan, Alwi Shihab, Marsillam Simandjuntak, Mahfud MD, Baharudin Lopa, dan Kofifah Indar Parawangsa. Pemberantasan korupsi dikebut, reformasi militer dipercepat namun usaha radikal justru berujung pada runtuhnya pemerintahan Presiden Gus Dur.

kabinet-gus-dur

Kendati harus turun lebih cepat, paling tidak Gus Dur membuktikan bahwa menteri yang seide dengan Presiden, berintegritas dan professional bakal membawa hasil yang baik, kendati bisa saja lemah secara politik di parlemen. Tapi toh masyarakat tidak akan terlalu peduli dengan transaksi di parlemen. Lihat saja, Jokowi – Ahok di Jakarta yang hanya menguasai 16 persen kursi DPRD, tapi toh bisa jalan dengan baik. Setap kali DPRD berusaha “menggebuki” Jokowi – Ahok, masyarakat dengan dibantu media pasti akan tampil membela.

Ramai ramai usulkan menteri

Nah balik lagi ke calon kabinet Jokowi – JK, kini masyarakat, pengamat dan relawan seperti bersahut – sahutan mengusulkan nama – nama menteri .  dibanding dua kali pilpres sebelumnya, kali ini spekulasi nama – nama yang beredar begitu liar dan terbuka. Semua orang bebas bicara, mengusulkan dan berpekulasi. Mungkin ini kali pertama jarak antara penetapan presiden terpilih dengan pelantikan presiden baru begitu lama. Hampir tiga bulan masyarakat punya waktu berspekulasi.  Pada pilpres pertama 2004  yang berlangsung dua putaran, jarak antara penetapan SBY sebagai presiden terpilh dengan saat pelantikannya hanya selisish satu bulan. Sementara pada pilpres 2009, masyarakat tidak begitu spekulatif karena yang terpilih adalah presiden incumbent.

Beberapa pengamat seperti wartawan senior Budiarto Shambazy justru menyarankan pengusulan nama – nama itu sebaiknya dihentikan. Alasannya pertama, harusnya kita fous pada apa yang akan dikerjakan, bukannya siapa menterinya. Kedua, jika usulan nama menteri ala – ala poling dadakan ini kemudian semakin populer dan mendapat ekspose besar dari media, maka bisa jadi aroma transaksi bisa terjadi. Bisa saja orang yang ingin jadi menteri kemudian membayar pengelola situs agar namanya dimasukan kedalam bursa bikinannya. Ketiga, karena orang – orang yang namanya beredar ini punya reputasi, jika mereka gagal jadi menteri  ditakutkan malah lebih tidak enak , malu, bahkan bisa stress. Keempat, menurut mas Bas panggilan Budiarto, poling – poling semacam ini seperti infotainment. Hanya ramai satu dua hari, kemudian orang lupa.

Sebelum orang lupa, saya juga boleh dong  punya usulan menteri. Siapa tau Presiden Jokowi bisa terinspirasi..hehehe berikut nama – namanya

1. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan: Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo

Agus Widjojo

Agus Widjojo

2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Dr. Ir Kuntoro Mangkusubroto

Kuntoro Mangkusubroto

Kuntoro Mangkusubroto

3. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat : Dr. HS Dillon

HS Dillon

HS Dillon

4. Menteri Sekretaris Negara: Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar

Dewi Fortuna Anwar

Dewi Fortuna Anwar

5. Sekretaris Kabinet: Ferry M Baldan

Ferry Mursidan Baldan

Ferry Mursyidan Baldan

6. Menteri Dalam Negeri: Agustin Teras Narang

Terang Narang

Terang Narang

7. Menteri Luar Negeri: Prof.Dr. Alwi Shihab / Dr. Makarim Wibisono

Alwi Shihab

Alwi Shihab

Makarim-Wibisono

Makarim Wibisono

8. Menteri Pertahanan: Jend TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu

Ryamizard Ryacudu

Ryamizard Ryacudu

9. Menteri Perhubungan: RJ Lino

RJ Lino

RJ Lino

10. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Dr. Mohammad Abduhzen

Mohammad Abduhzen

Mohammad Abduhzen

11. Menteri BUMN : Ignasius Jonan

I Jonan

I Jonan

12. Menteri Perindustrian: Rahmat Gobel

Rahmat Gobel

Rahmat Gobel

13. Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa

Khofifah I P

Khofifah I P

14. Menteri Hukum dan HAM: Dr. Busyro Muqoddas

Busyro Muqoddas

Busyro Muqoddas

15. Menteri Perdagangan: Jenderal TNI (Purn) Luhut Pandjaitan

Luhut B Pandjaitan

Luhut B Pandjaitan

16. Menteri Agama:  KH Salahudin Wahid

Gus Sholah

Gus Sholah

17. Menteri Komunikasi dan Informasi: Prof.Dr. Sasa Djuarsa Sendjaja

Sasa Djuarsa Sendjaja

Sasa Djuarsa Sendjaja

18. Menteri Pertanian: Bayu Krisnamurti

Bayu Krisnamurthi

Bayu Krisnamurthi

19. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Emirsyah Satar

Emirsyah Satar

Emirsyah Satar

20. Menteri Kehutanan: Daniel Murdiyarso

Daniel Murdiyarso

Daniel Murdiyarso

21. Menteri Lingkungan Hidup: Prof. Dr. Endang Sukara, APU

Endang Sukara

Endang Sukara

22. Menteri Keuangan: Dr. M Chatib Basri

Chatib Basri

23. Menteri ESDM: Dr. Rizal Ramli

rizal ramli

Rizal Ramli

24. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan PA: Prof.Dr.Siti Musdah Mulia

Siti Musdah

Siti Musdah

25. Menteri Kesehatan: dr. Kartono Mohammad

Kartono Mohammad

Kartono Mohammad

26. Menteri Kelautan dan Perikanan: Prof.Dr. Ir. Rokhmin Dahuri

Rokhmin Dahuri

Rokhmin Dahuri

27. Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi:  Anwar Suprijadi

Anwar Suprijadi

Anwar Suprijadi

28. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal: Arif Budimanta

Arif Budimanta

Arif Budimanta

29. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi:Rieke Diah Pitaloka

Rieke DP

Rieke DP

29. Menteri Perumahan Rakyat: Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

30. Menteri Koperasi dan UKM: Prof. Dr. Sri Edi Swasono

Sri Edi Swasono

Sri Edi Swasono

31. Menteri Pekerjaan Umum : Dr.Ir. Firdaus Ali

Firdaus Ali

Firdaus Ali

32. Menteri Pemuda dan Olahraga: Hanif Dhakiri

Hanif Dhakiri

Hanif Dhakiri

33. Meneg PPN/Kepala Bappenas: Faisal Basri Batubara, MA

Faisal Basri

Faisal Basri

34. Menristek/Kepala BPPT: Prof. Dr. Yohanes Surya

Yohanes Surya

Yohanes Surya

35. Kepala BKPM : Gita Wirjawan

Gita Wirjawan

Gita Wirjawan

36. Kepala UKP4: Marsillam Simandjuntak

Marsillam Simandjuntak

Marsillam Simandjuntak

37. Jaksa Agung: Todung Mulya Lubis

TODUNG MULYA LUBIS

35. Juru Bicara Kepresidenan : Anies Baswedan, dan Bara Hasibuan

Anies Baswedan

Anies Baswedan

Bara Hasibuan

Bara Hasibuan

Ternyata nggak mudah untuk memilih orang – orang yang menurut sudut pandang kita itu baik dan professional di bidangnya. Belum lagi harus akomodatif terhadap orang – orang partai. Pusing memang jadi presiden ini ya.

 

Note: buat yang ingin tahu latar belakang mereka, silahkan cari sendiri ya.. kepanjangan artikelnya kalau ditambahin profl singkat..hehe

 

 

Balada “semprot” wartawan ala Ahok

ahok2

Belakangan ini lagi ramai dibahas mulai di social media sampai obrolan warung kopi tentang aksi Wagub DKI Ahok “nyemprot” wartawan ketika wawancara. Kalau mau dicari ada tuh di youtube beberapa cuplikannya.  Mulai wartawan online sampai wartawan tv. Dari mulai pas doorstop sampai wawancara siaran langsung. Ya semua orang udah tau sih perangai pak Ahok yang sumbu pendek, tampa tedeng aling aling dan gampang “meledak”.  Tipe orang ekstrovert banget, yang ekspresif, emosional (sedih, gembira, atau marah) tapi nggak pedendam. Biasanya sih kalau udah marah sekali itu, sesudahnya  ya bisa  ketawa – ketawa lagi.

Meskipun beberapa wartawan sudah jadi korban semprotannya Ahok, tapi toh dia tetap diburu dan diikutin media. Jawabannya klise, hampir semua omongannya adalah omongan layak  jadi “quote” atau bahkan “headline”. Malah sering kita wartawan suka sengaja mancing – mancing supaya kata- kata kerasnya bisa keluar dan diquote. Meskipun mengakui suka mancing – mancing pak Ahok, tapi alhamdulilah setahun bertugas meliput kegiatan gubernur dan wakil gubernrur saya belom pernah kena semprot apalagi maki.

Aksi semprot wartawan ala ahok ini mungkin aja Ahok bisa segitu naik pitam karena sudah kesal dengan stasiun tv tertentu yang ditunggangi kepentingan destruktif terhadap pemerintahannya, atau emang si wartawannya yang ngeselin. Udah dapat quote bagus tapi masih “ndedes’ dengan serangkaian pertanyaan yang sama dan mbulet alias muter – muter kalau bahasa jawanya

Segudang masalah ibukota yang nggak ada habis – habisnya membuat Ahok pasti tidak pernah berhenti diburu wartawan. Wawancara Ahok itu susah – susah gampang. Apalagi bisa dibilang Ahok jadi wakil gubernur DKI yang paling efektif dan buanyak kerjaannya selama ini.  Nah, buat rekan – rekan wartawan khususnya jurnalis tv yang ingin wawancara doorstop pak Ahok, ini ada beberapa tips dari saya.

ahok 1

1. Datang Pagi!

Ahok terkenal sebagai “Mr. Ontime”, dan wartawan terkenal sebagai pasukan “kesiangan” yang agak susah datang pagi. Meskipun selalu pulang kerja sekitar jam 9 malam setiap harinya, setiap hari  ahok selalu datang ke kantor jam 7.30 pagi tepat. Bahkan lebih pagi dari hampir semua karyawan pemprov DKI yang berkantor di balaikota. Dan inilah waktu yang paling pas kalau mau doorstop interview. Lebih baik kita sudah sampai di kantor wakil gubernur sekitar jam 7.15 supaya bisa siap – siap dulu. Begitu setengah delapan wagub datang kita sudah seperti among tamu yang siap menyambut sekaligus memberondong sederet pertanyaan.

Pertanyaannya gimana kalau kita telat datang? Yaa sebenernya sih nggak papa juga kalau telat datang, tapi kita harus tau konsekuensinya. Seperti sudah dibahas tadi, sebagai wail gubernur tersibuk sepanjang sejarah (bahasa lebay),  jadwal Ahok  memang padat banget setiap harinya. Kerjanya ya dari satu rapat ke rapat yang lain. Dan biasanya rapat atau segala kerjaan wagub yang menumpuk itu dikerjakan di ruang kerjanya, termasuk makan siang  dan tidur siang.

ahok 4

Jadi bisa aja setelah masuk ruangan pagi, Ahok nggak keluar keluar sampai sore bahkan malam. Nggak sedikit wartawan yang ingin wawancara Ahok mengeluh terpaksa menunggu berjam – jam hanya untuk mendapat satu patah kalimat. Kalau kita lagi beruntung, ya bisa saja Ahok tiba – tiba keluar untuk rapat sama Gubernur Jokowi, atau membuka acara di luar. Tapi sekali lagi, itu nggak setiap hari.

2. Pakai tripod dan teruslah merekam

Buat anda para camera person , dianjurkan untuk pakai tripod setiap mau doorstop. Karena  kebiasaan Ahok kalau menjelaskan masalah itu lengkap dari hulu sampe hilir.Jadi efek sampingnya adalah menyita durasi yang panjang dan LAMA. Beberapa campers yang mencoba wawancara tanpa tripod sudah merasakan efeknya. Tangan pegal seperti cantengan, gambar jadi goyang – goyang nggak stabil dan akhirnya ngedumel sendiri.. hehe

Q:  Tapi kan kita cuma mau tanya satu pertanyaan aja? Pasti nggak begitu lama dong.

A: kalau boleh dibilang, hampir semua omongannya Ahok itu memang pernyataan yang “layak quote”.  Belum lagi jika ada wartawan lain bertanya pertanyaan lain yang bisa aja keluar jawaban bagus dan menggelegar dari mulut pak Ahok. Atau beruntung pas dapat dia lagi “semprot”  orang. Jadi lebih baik record terus sesi doorstopnya, meskipun pertanyaan kita sudah dijawab. Dilematis memang, tapi lebih baik siap sebelum bertempur

3. Cegat di depan ruangan

Spot terbaik adalah cegat Ahok di depan pintu ruang kerjanya, yang ada di lantai 2 balaikota. Kenapa? Meskipun sudah ada lift di kantornya , tapi Ahok biasa memilih naik lewat tangga menuju ruang kerjanya. Dan jarang banget dia mau berhenti doorstop setelah keluar mobil. Kalaupun mau didoorstop sambil jalan dan itu naik tangga dua lantai!! Bagi wartawan online, radio atau cetak mungkin gak masalah wawancara sambil jalan naik tangga. Tapi untuk tv, dijamin gambar wawancara jadi kurang maksimal. Disamping itu buat kita yang nggak terbiasa naik tangga, aktivitas simple ini bisa buat kita ngos – ngosan juga. Toh dia mau naik ke ruang kerjanya, jadi mendingan kita tunggu aja di depan ruang kerjanya.

ruang kerja Wakil Gubernur Ahok

ruang kerja Wakil Gubernur Ahok

4. Memancinglah sebelum kita dipancing

Terkadang pernyataan mengejutkan yang keluar dari mulut Wagub Ahok memang  hasil pancingan dari kita – kita wartawan yang mau dapet jawaban bagus.hehe ga papa lah ya. Kalau pertanyaan pertama belum dapat jawaban yang begitu menyerang, lebih baik kita tanya lagi dengan sedikit modifikasi pertanyaan. Tapi kalau sudah dua kali nggak juga dapat jawaban yang “diinginkan” ya jangan dipaksa bertanya lagi, kalau nggak mau kita yang kena semprot. Tapi, sebaliknya jika kita sudah dapat jawaban bagus di awal wawancara sebaiknya tidak usah dikejar lagi dengan pertanyaan yang sama, kalau kita nggak mau lagi – lagi kena semprot.

Tapi terlepas dari itu, sosok Ahok memang fenomenal yang susah untuk tidak diburu beritanya. Sikapnya yang jujur, apa adanya dan juga pengetahuannya yang mumpuni sebagai kepala daerah membuat sosok kaya gini sangat susah untuk tidak dicintai oleh masyarakatnya.

ini beberapa wawancara yang pernah saya lakukan dan dapat jawaban “bagus” dari Wagub Ahok

http://tv.detik.com/readvideo/2013/12/04/185602/131204059/061009681/fitra-tuding-jokowi-ahok-habiskan-miliaran-rupiah-hanya-untuk-pencitraan

http://tv.detik.com/readvideo/2013/11/25/202702/131125052/061009681/jakarta-banjir-ahok-salahkan-daerah-penyangga-depok

http://tv.detik.com/readvideo/2013/09/12/205738/130912061/061009681/ahok-geram-dengan-tuntutan-warga-waduk-ria-rio

http://tv.detik.com/readvideo/2013/07/25/170850/130725037/061009681/ahok-ancam-usir-paksa-pkl-tanah-abang

Ahok Terima Penghargaan Anti Korupsi

Ahok

Ahok

Bersih, Transparan, Professional atau BTP. Begitulah Wakil Gubernur Ahok biasa memlesetkan singkatan namanya, BTP alias Baski Tjahaja Purnama. Wakil Gubernur DKI ini baru saja beberapa waktu lalu diumumkan mendapatkan penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award. Ini adalah penghargaan tertinggi yang diberikan pegiat anto korupsi kepada kepala daerah dan pejabat BUMN yang dinilai serius memberantas korupsi di lingkungannya. Tidak hanya Ahok, Dirut PLN Nur Pamudji juga diganjar penghargaan anti rasuah ini.

Oleh tim juri Ahok dinilai secara konsisten menjadi pejabat yang bersih, transparan dan tidak kenal kompromi untuk korupsi. Perilaku Ahok yang tidak mau kompromi untuk urusan suap, sogok apalagi korup memang sudah terlacak sejak jauh sebelum jadi wakil gubernur DKI. Sejak jadi anggota DPRD, Bupati lalu anggota DPR, Ahok sudah berani membuka berapa besar pendapatannya. Dia juga kerap membongkar praktek catut mencatut anggaran perjalanan dinas yang dilakukan koleganya sesama anggota parlemen. Bahkan tanpa ragu dia mengusulkan agar semua pejabat diminta membuktikan dari mana asal kekayaannya lewat pembuktian terbalik. Nggak salah si kalau orang ini dianggap gila dan nggak ada takutnya.

Sebenarnya menurut panitia , penghargaan ini diberikan untuk duet Jokowi – Ahok. Tapi karena Jokowi sudah pernah menerima penghargan ini pada 2010 lalu maka panitia menilai Ahoklah yang paling pantas menerima penghargaan bergensi ini. “Dua orang ini berani punya kepemimpinan yg berani utk menerapkan aturan sehingga semua mereka akan labrak , dorong birokrasinya termasuk kelompok bisnis yg punya kepentingan bahkan mengganggu tata ruang dsb mereka labrak”, ujar salah seorang dewan juri Teten Masduki, saat saya temui.

Sejak memimpin Jakarta, Ahok memang sudah fenomenal. Demi keterbukaan, Ahok meminta semua rapat – rapat pembahasan anggaran dan rapat konsultasi direkam dan diunggah ke youtube. Kalau nggak percaya liat aja deretan rapat wagub yang berjam – jam lamanya itu di youtube. Yang paling fenomenal tentu saja waktu Ahok minta dinas pekerjaan umum memangkas 25 persen anggarannya.

Di website pribadinya www.ahok.org , mantan bupati beelitung timur ini juga tidak segan membuka gaji yang dia terima. Kemudian menerapkan pajak online , pembayaran transaksi non tunai sampai ide harus ada cctv di setiap sudut kota.

Satu lagi yang menurut saya jarang dilakukan kepala daerah lain. Jika pejabat – pejabat umumnya sebisa mungkin menghindari KPK atau LSM anti korupsi, Ahok justru kerap membuat konsultasi rutin dengan ICW. Bahkan dalam tes CPNS di lingkangan pemprov DKI, salah satu tim seleksinya berasal dari KPK!

slip gaji wakil gubernur

slip gaji wakil gubernur

Ya, Jakarta memang buas, jadi harus buas juga menghadapi kebuasan ibukota. Ahok memang seperti berjuang melawan mitos. Bahwa pejabat publik dengan pangkat tinggi bisa tidak korup, jujur, melayani dan juga bisa juga seorang China. “Harusnya pejabat ga perlu dapat penghargaan, krn itu sudah sumpah jabatan utk lakukan. Saya ingin sekali mematahkan sebuat mitos, sel alu mitos kita ga ada lah orang pake seragam mau jujur, melayani orang. Makanya perlu ada penghargaan spt ini”, kata Ahok

Kita kembali ke penghargaan. Penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award ini memang hampir sama bergensinya seperti penghargaan Ramon Magsaysay di Filipina. Dengan panitia, dan dewan juri yang teruji pengetahuan, pengalaman dan integritasnya, penghargaan yang dibagikan seak 2003 setiap dua tahun sekali ini memang sangat sulit dipenuhi oleh para nominatornya. Karena selain semangat anti korupsi, nominator juga harus memiliki kebijakan anti korupsi yang teruji, sistematis dan akuntabel. Makanya penghargaan ini tidak selalu terlaksana tepat dua tahun sekali. Kadang bisa dua tahun, kadang molor jadi tiga tahun. Karena memang tidak gampang menemukan pejabat yang serius konsisten anti korupsi.

Liat saja orang – orang yang sudah menerima penghargaan ini. sejauh ini mereka memang belum terbukti punya “cacat” terkait integritas dan korupsi. Penghargaan ini sebelumnya pernah diterima Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamengkas, mantan Bupati Solok yang sekarang jadi mendagri Gamawan Fauzi, mantan menkeu Sri Mulyani, Walikota Yogyakarta Herry Zudianto, dan pada 2010 lalu penghargaan ini diterima Joko Widodo yang ketika itu masih ,menjabat Walikota Solo.

44e983717d9c5021c56372d33b5a9036

2003a

BUSYRO